<writer: akhirnya ada lanjutannya>
Apa yang aku khawatirkan jadi kenyataan. Sudah 3 minggu tidak ada kabar dari Arsnad. Selama itu pula aku mengurung Eyn di salah satu kamar yang kosong di rumahku. Setiap waktu makan, aku menyediakannya. Adikku tidak perlu tahu tentang ini, dia jangan sampai masuk ke duniaku.
Tapi, setiap aku memandang wajah Eyn, sesuatu berdebar dalam hatiku, mengingat waktu penculikannya yang (ehm…) mengingat dia seorang idola dan sekarang berada di hadapanku, memakan makanan yang aku masakkan. Kalau teman2ku tahu, aku pasti dibunuh mereka karena iri.
Aneh juga, masa artis seperti dia memiliki sesuatu sampai2 harus diculik? Atau Arsnad lagi kekurangan duit? ah, ngga juga sih, buktinya ngga ada pengumuman permintaan dana tebusan. Dari pihak manajemen Eyn, tidak ada kabar ke media, sepertinya memanfaatkan pernyataan liburnya untuk pencarian. Tapi di forum-forum (ehm….) stalker, ada kasak kusuk mengenai hilangnya Eyn (info ini aku dapat dari temanku!). Ya sudahlah, mengurangi beban :p
Hari ke-23 penculikan
[Tok-tok]
Aku mengetuk pintu, memastikan Eyn duduk di kursi yang akan secara otomatis mengikat tangannya disana selama aku di dalam. Ini untuk mencegah dia kabur dan menimbulkan keributan di lingkungan sekitar. Anehnya, waktu Eyn aku suruh begitu, dia menurut saja tanpa ada keinginan melawan.
Mendengar suara di dalam sebagai tanda boleh masuk, aku memastikan penutup kepalaku rapat dan tak terlihat siapa aku.
Seperti biasa, wajahnya terlihat tenang, tidak ada ketakutan, seperti dia sudah siap untuk diculik. Aku melangkah masuk sambil membawa nampan berisi makanan. Saat mendekatinya, aku melihat papan yang aku siapkan untuk menulis pesan (aku ngga kuat kalo ndenger suaranya…) Disana tergambar simbol yang aku kenal.
aku mengingat arsnad
Eh? Aku menoleh ke arah Eyn.
Dia membuka mulut untuk berbicara, aku menyiapkan hatiku agar tidak pingsan mendengar suaranya yang indah.
“Next order”, Eyn mulai berbicara.
Masih kaget, ada suara orang di pintu, pintu terbuka.
Nampak adikku di pintu yang terbuka sedikit itu.
“Kakak,” “ternyata…….. Ufufufufu….”
Ugh, tawanya seperti ada sesuatu yang aneh dipikirkannya.
Ows, sebelum dia melihat Eyn, aku geser keluar dulu adikku…