Hari keberangkatan, seperti biasa adikku selalu panik kalau akan pergi keluar. Ini itu tertinggal, lupa melakukan ini itu. Untung saja dia ngga ngomong lupa mbakar rumah…. Dan juga kita melakukan perjalanan menggunakan pesawat pribadi Eyn, jadi ngga perlu kawatir terlambat, paling-paling dimarahi pihak bandara karena ngacoin jadwal flight……
Yap, semua persiapan selesai, adikku meyakinkan diri ngga ada yang ketinggalan. Eyn menunggu di ruang tamu dengan wajah tenang, seperti sudah mengetahui semuanya. Yah, orang yang memiliki hubungan dengan Arsnad *sepertinya* memang memiliki kelebihan tertentu… Eh, tapi mungkin saja Eyn tu Arsnad sendiri. Ah, ngapain mikirin itu, bisa keluar dengan Eyn saja udah cukup…
Petaka! Aku tidak menyadari bahwa Eyn ataupun Arsnad tidak menyediakan kendaraan ke bandara. Berarti aku yang mengemudi, er~ mobil… Masak mau ditaruh di bandara… Berapa lama aku ada disana saja ngga ngerti. Carter, siapa yang ngembaliin… Taxi? Hmm, kalo orang sekota ngga kenal Eyn sih gapapa……
Terlalu lama berada di dalam pikiranku, aku ngga sadar kalo Eyn dan adikku sudah ada di gerbang depan. Seperti yang diduga, orang-orang yang berjalan di depan rumah langsung mengerubuninya seperti semut dan gula. Untung saja rumahku ini berada di tempat yang jauh dari keramaian, sehingga yang mengerubunginya cuma orang-orang sekitar rumah saja. Walau begitu, mereka cukup baik hati untuk menjaga rahasia bahwa Eyn menghabiskan bulan pertama cutinya di sini *berkat permintaan Eyn*. Selain itu, ada yang berbaik hati juga memberikan tumpangan ke bandara. Aku tidak tahu apa yang Eyn katakan tentang aku dan adikku, yang jelas, tetangga-tetanggaku yang selalu baik pada keluargaku itu langsung mempercayainya.
Setibanya di bandara, setelah berbasa-basi tentang pencarian orangtuaku, tetangga yang mengantar kami ke bandara langsung pergi, kemana? Mungkin kerja, toh juga hari ini hari kerja kok. Second wave of mass coming. Orang-orang di bandara langsung mengerubungi kami seturunnya dari mobil yang mirip mobil pengawal presiden tadi. Berlagak seperti bodyguard, aku membawa Eyn menjauh dari kerumunan, langsung ke pesawat pribadi Eyn. Ah, adikku tertinggal… Aku menyuruh Eyn menunggu di pesawat supaya tidak mengganggu pencarian adikku dengan kerumunan penggemarnya.
Mengira kerumunan tadi sudah bubar, aku terkejut masih ada beberapa orang yang berada disana… ヘンタイかあいつら… Ternyata bukan, mereka terlihat seperti pencari bakat dan wartawan yang melihat kecantikan adikku serta kejadian tadi.
“Abang!!” adikku berteriak dengan wajah yang terlihat tidak senang dengan kerumunan itu diiringi pandangan tajam beberapa orang yang masih mengitari adikku.
Berlari kecil ke arahku, aku mengatakan “kok kamu bawa juga boneka itu”, sambil melihat boneka yang diseretnya.
“Ngga ngerti, tiba-tiba aja ada di tumpukan barang, ya~ aku bawa aja deh”, jawabnya.
Mengacuhkan serangan pertanyaan pencari bakat dan wartawan, aku menyeret adikku berikut barang bawaan yang tersisa ditambah bonekanya ke taxi tempat pesawat Eyn parkir.