-step ahead, no one would care what you do-
.
“Tiga tahun…”, suara di seberang sana bernada ingin memulai pertengkaran kecil yang sering kita lakukan.
“Apa kamu benar-benar mau ngelanjutin hal ini?”, pertanyaan retoris itu diiringi kesunyian selama beberapa detik sebelum aku menjawab.
.
“Memangnya kenapa…”, jawabku sekenanya.
.
“Umuuuu! Jawaban kayak gitu yang aku paling ngga suka.”
“Jangan balas pertanyaanku dengan pertanyaan lagi kenapa sih!”
.
“…”, suara gemericik air dari kolam di luar rumahnya terdengar sampai kesini.
.
“Kamu masih ingat dengan teman-teman di sekolah dulu bukan?”
“Sebagian besar dari mereka sudah berjalan di masyarakat dengan membusungkan dada.”
“Kamu? Masih saja mengurung diri di ruangan sempit itu.”
“Kalau aku ngga sering-sering datang kesana bisa saja kamu hilang ditelan suasana sepi yang kamu buat sendiri.”
.
“Bukannya lebih baik kalo begitu? Ngga bakal ngerepotin siapa-siapa lagi kan? Terutama kamu…”
.
“uhuk.. uhuk…..”
“Ukyaaa! Kalo ngga sakit kayak gini, aku udah kesana ngehajar kamu…”
“aaah… Bodo… Suka-suka kamu sendiri aja sana!!!”
*brak*, suara gagang telepon yang dibanting sepertinya terdengar dari sini.
.
—-
.
Tiga bulan berlalu sejak percakapan tersebut. Selama itu juga dia tidak pernah menghubungiku lagi. Biasanya seminggu sekali dia datang ke tempat tinggalku atau paling tidak menelpon untuk memarahiku. Walaupun dia selalu marah-marah saat menelpon, tapi kalau sedang berkunjung ke tempatku, tidak ada emosi sama sekali dalam dirinya.
.
Ada rasa penasaran, tapi pekerjaan yang membuatku dapat terus hidup tanpa harus bertemu dengan orang lain akhir-akhir ini membuatku sibuk.
.
Pekerjaan selesai, waktu senggang datang.
Dipicu oleh rasa penasaran, aku menghubungi nomor telepon genggamnya.
… …
Nomor itu telah kadaluarsa.
Berikutnya aku mencoba untuk menghubungi rumahnya.
… …
Tidak ada yang mengangkat.
.
Rasa penasaran ini berubah menjadi khawatir. Apa yang terjadi dengan dirinya saat aku sibuk dengan pekerjaanku? Apakah gara-gara percakapan terakhir kita, dia mendadak tidak ingin bertemu denganku? Padahal dia sering marah-marah lebih keras dari ini.
Memikirkannya dalam-dalam membuatku teringat keadaannya saat itu.
.
…sakit…
.
Dia sedang sakit saat menelponku. Dari suaranya dan batuk yang terdengar, sepertinya cukup parah sehingga membuatnya tidak bisa keluar dari rumahnya untuk mendatangiku.
Tapi tiga bulan…
Apakah sakitnya separah itu?
.
Dia memang sering sakit saat di sekolah dulu. Tapi tidak pernah lebih dari seminggu.
Dan itu juga yang membuatnya terkadang tidak datang mengunjungiku.
Apakah sakitnya menjadi parah?
.
Rasa khawatir ini terus berputar di kepalaku.
Satu-satunya teman dari dunia nyata yang terus menjaga hubungannya denganku selama aku menarik diri dari masyarakat.
.
Tiba-tiba menghilang.
.
Tentu saja aku merasa khawatir.
.
Aku membongkar album kelulusan untuk mencari alamatnya. Dengan bantuan online map, aku menemukan lokasi rumahnya dan menulis cara sampai kesana dalam secarik kertas.
.
Walaupun dulu aku sering berkeliling kota tanpa tujuan, waktu tiga tahun mungkin sudah menumpulkan kemampuanku mengingat arah.
Belum lagi perubahan tata kota besar-besaran saat aku menarik diri dari masyarakat membuat banyak jalur angkutan umum berubah.
.
Well, let start from beginning…
Aku membuka pintu kamar dan melangkah keluar.
Advertisement